HARU bercampur tanya menyeruak dari sebuah video berdurasi satu menit tujuh belas detik yang ramai beredar di media sosial.
Memperlihatkan puluhan pekerja Gudang Garam saling berjabat tangan, beberapa menahan air mata.
Sementara yang lain mengenakan kemeja dengan bordiran logo khas korporasi rokok terbesar di Kediri itu, meninggalkan pertanyaan besar.
Apakah ini sekadar perpisahan biasa, atau tanda awal dari gelombang pemutusan hubungan kerja massal di industri rokok yang tengah menghadapi tekanan berat.
Baca Juga:
Savaya Group Luncurkan Zumana, Destinasi Tepi Pantai Terbaru di Kawasan Ikonik Pantai Kuta
Debut AiMOGA Intelligent Police Unit R001, Sambut Era Baru dalam Pengaturan Lalu Lintas Cerdas
Video itu dengan cepat menyebar di grup WhatsApp dan platform X, memicu perbincangan publik, terutama karena kabar mengenai menurunnya kinerja industri rokok nasional sudah lama terdengar.
Dari pengetatan regulasi, kenaikan cukai, hingga pergeseran tren konsumsi generasi muda yang lebih memilih produk alternatif tembakau.
Pemerintah Memantau Tanpa Laporan Resmi dari Korporasi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, akhirnya angkat suara menanggapi riuh isu PHK massal Gudang Garam.
Baca Juga:
Himel Raih Penghargaan Internasional Berkat Keunggulan Global dan Inovasi Produk
Dia menegaskan bahwa pemerintah belum menerima laporan resmi dari pihak korporasi, namun tetap melakukan pemantauan ketat.
“Kami monitor, karena Gudang Garam sudah menggunakan juga modernisasi, nanti kami lihat ya,” kata Airlangga di Jakarta pada Senin, 8 September 2025, seraya menambahkan bahwa belum ada sinyal laporan resmi masuk ke pemerintah.
Pernyataan itu seolah menegaskan satu hal, bahwa isu besar yang beredar masih berupa spekulasi, namun tidak menutup mata pada kenyataan bahwa industri rokok tengah diguncang oleh perubahan besar.
Modernisasi Industri dan Bayang-Bayang Ketenagakerjaan
Modernisasi pabrik rokok sejatinya bukan kabar baru, terutama setelah korporasi-korporasi besar seperti Gudang Garam dan HM Sampoerna mulai mengurangi ketergantungan pada pekerja linting manual.
Baca Juga:
Menggantinya dengan mesin berteknologi tinggi yang bisa memproduksi ribuan batang rokok dalam hitungan menit.
Bagi pemilik modal, modernisasi adalah kebutuhan untuk menjaga daya saing global.
Namun bagi ribuan pekerja yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup pada keterampilan tangan, perubahan itu ibarat tamu tak diundang yang menimbulkan kecemasan.
“Kalau mesin makin banyak, otomatis pekerja makin sedikit dibutuhkan,” kata Anang, seorang pekerja linting yang ditemui di Kediri, menggambarkan ketakutan yang belakangan menjadi percakapan rutin di ruang-ruang pekerja.
Industri Rokok Nasional di Tengah Regulasi Ketat Pemerintah
Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa cukai hasil tembakau terus meningkat dalam lima tahun terakhir, dengan rata-rata kenaikan mencapai 10 persen per tahun, yang membuat harga rokok semakin mahal di pasaran.
Di sisi lain, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional menargetkan prevalensi merokok usia 10-18 tahun turun menjadi 8,7 persen pada 2024, sebuah kebijakan yang menekan industri rokok untuk mengubah arah.
Korporasi Gudang Garam yang berbasis di Kediri tercatat memiliki lebih dari 30 ribu pekerja, sebagian besar di unit linting kretek tangan, yang masih menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar meskipun mesin produksi semakin banyak digunakan.
Kalau melihat tren konsumsi dan regulasi, tekanan pada industri rokok memang nyata, adaptasi industri harus memperhitungkan aspek sosial pekerja.
Spekulasi Publik dan Keheningan dari Manajemen Gudang Garam
Manajemen Gudang Garam belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi video viral maupun isu PHK massal, yang justru menambah ruang spekulasi di tengah masyarakat.
Keheningan itu memicu perdebatan di jagat maya, sebagian menganggap video itu bukti adanya PHK, sebagian lain meyakini hanya acara pelepasan biasa pekerja kontrak yang habis masa kerjanya.
Namun, dalam situasi industri yang sedang tertekan, publik tentu lebih mudah percaya pada kabar miring ketimbang penjelasan sederhana, karena rasa khawatir kehilangan pekerjaan menyentuh aspek paling sensitif: masa depan keluarga.
Jalan Tengah Antara Modernisasi dan Perlindungan Pekerja
Pemerintah kini dihadapkan pada dilema klasik: bagaimana mendorong modernisasi industri tanpa mengorbankan puluhan ribu pekerja yang menjadi tulang punggung daerah-daerah sentra produksi rokok, seperti Kediri, Surabaya, hingga Malang.
“Modernisasi industri perlu, tapi jangan sampai mengabaikan faktor tenaga kerja, karena dampaknya bisa meluas menjadi gejolak sosial,” ujar Airlangga, menekankan komitmen pemerintah untuk mengawal isu ini.
Jika modernisasi berjalan tanpa keseimbangan, dikhawatirkan akan terjadi pengangguran massal yang menambah beban sosial, terutama di Jawa Timur, provinsi dengan jumlah buruh rokok terbanyak di Indonesia.
Menanti Kepastian dari Korporasi Gudang Garam
Pertanyaan yang menggantung kini adalah: kapan manajemen Gudang Garam akan memberikan klarifikasi resmi, agar isu yang berkembang tidak terus menimbulkan keresahan.
Dalam sejarahnya, Gudang Garam adalah korporasi yang mampu bertahan melewati krisis ekonomi 1998 dan tetap menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Asia Tenggara.
Sehingga publik menanti apakah mereka juga akan mampu menavigasi tantangan modernisasi industri saat ini dengan bijak.
Sementara itu, pemerintah memilih sikap menunggu, masyarakat bertanya-tanya, dan para pekerja masih berjabat tangan di ruang-ruang pabrik yang mulai digantikan oleh suara mesin otomatis.****
Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infokumkm.com dan Pangannews.com
Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Delapannews.com dan Apakabarindonesia.com.
Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Harianmalang.com dan Haisumatera.com
Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.
Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.
Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com
Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.
Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.
Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.
Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center



















